Ponggok merupakan salah satu contoh desa yang seharusnya menjadi teladan, desa tertinggal yang bangkit berkat kesadaran, niat serta tekad kuat warganya untuk mengubah keadaan dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Sekarang sudah tidak asing lagi ketika menyebut desa wisata ini karena sudah dikenal bukan hanya klaten, ataupun solo raya, dan jawa tengah tetapi sudah merambah di nusantara Indonesia, bahkan sampai luar negri. Bertumpu pada potensi sumber air, desa yang masuk wilayah Kecamatan Polanharjo, Klaten telah berubah menjadu desa yang sejahtera dan makmur.

Pada 2001, pemerintah desa hanya mengelola anggaran Rp 14 juta dan memiliki tanah kas desa seluas sekitar 14 ribu meter persegi.“Ponggok sebelumnya merupakan desa tertinggal yang mempunyai potensi sumber air, salah satunya Umbul Ponggok yang hendak disewakan Rp 5 juta per tahun, tetapi tidak ada yang berminat” ujar Sekretaris Desa Yani Setiadi.

“Akhirnya, kami meminta bantuan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk merencanakan, mengelola, dan mengoptimalkan potensi desa, terutama sumber airnya yang berlimpah,” tambahnya.

Tahun 2011, Umbul Ponggok dikelola sebagai objek wisata di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandisi. Total 330 keluarga dari 639 keluarga yang andil modal awal sebesar 5 juta, yang selanjutnya digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana. Berikutnya pada 2015 membukukan pendapatan 6,4 miliar, naik 10,3 miliar pada 2016, dan 14,2 miliar pada 2017.

“Ponggok mampu mengoptimalkan potensinya sebelum ada kucuran dana desa” kata Kepala Desa Junaedi Mulyono.

“Semestinya desa lain lebih mampu dan lebih baik dalam menggali dan memanfaatkan potensinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya” tambahnya.

Pada tahun 2006, pendapatan desa hanya 80 juta per tahun. Lalu, 2016 naik menjadi 120 juta sedangkan tahun lalu melonjak sampai 3,9 miliar. Empat pendekatan yang digunakan dalam membangun Desa Ponggok, yakni perencanaan yang matang, BUMDes, sumber daya manusia (SDM), serta ilmu dan teknologi.

Perencanaan yang matang akan melahirkan visi misi yang baik dan terstruktur. BUMDes untuk mengelola keuangan yang bisa meningkatkan perekonomian warga di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan UKM. Kemudian SDM berkompeten merupakan syarat penting dalam kemajuan desa. “SDM di desa kami coba tingkatkan melalui pelatihan, studi banding, seminar, pameran, dan sebagainya. SDM diberdayakan untuk kemajuan masyarakat desa,” jelas Junaedi.

Terakhir melalui ilmu dan teknologi seperti produk-produk sektor pariwisata, perikanan. “Kini, semua anggota UKM diberdayakan untuk mengolah camilan dari bahan ikan nila. Hasilnya bisa menambah pendapatan keluarga,” ungkap Ketua UKM Nila Murni Listyaningsih. Begitu pula Ngatmi yang dulu berjualan di pasar, sekarang beralih menjadi pedagang dan membuka ruko di pinggir Umbul Ponggok.

Tentu hal ini diharapkan seperti virus yang menular, yang mana kesuksesan Ponggok tentu diharapkan bisa menular ke desa lain di Jateng maupun Indonesia dengan potensinya masing-masing. Banyak potensi diantara potensi budaya, kesenian, alam yang cantik, hutan, perbukitan, danau, air terjun, kuliner, kebun buah dan bunga, dan masih banyak lagi lainnya. Keseluruhannya menunggu untuk digarap dan dikembangkan agar memberikan manfaat bagi warga desa masing-masing.

.“Persoalannya adalah bagaimana menggerakkan warga desa, Butuh kepala desa yang punya visi, kreatif, dan inovatif, didukung oleh perangkat desa lainnya, tokoh masyarakat, pemuda, dan para pioner serta motivator,” ujar M Umar Basuki, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang.

“Terkait masalah dana, sudah ada dana desa yang bisa dimanfaatkan untuk membangun potensi supaya berdaya guna dan berhasil guna, sehingga bisa mengangkat kesejahteraan warga desa” tambahnya.

Semangat dan gairah untuk serius menggarap potensi yang dimiliki menjadi optimal, bermanfaat ganda, khususnya dari sisi ekonomi. Desa lain tidak perlua malu untuk belajar dari desa Ponggok, sehingga Virus Kesuksesan Ponggok menular dengan segala kebermanfaatan dan semangat memajukan Indonesia Raya.

 

Mengutip dari Berita SuaraMerdeka : Bambang Tri Subeno (Menunggu Virus Ponggok Menulari Desa-Desa Se-Jateng)